Insya Allah saya siap, syaratnya…

By asmaf

Kenapa jika kita mendapatkan koreksi, kadang kita suka bete? wajar jika bete kalau kita tidak merasa salah, lalu ada yang koreksi kita. Namun, tidak sedikit orang yang menyadari kesalahannya, lalu ada yang koreksi, masih juga bete.

Hal ini terjadi pada saya sendiri langsung. Saya sedikit bete ketika tadi pagi dikoreksi oleh seseorang yang sangat saya segani. padahal sebelumnya saya sudah menyadari dan memperbaiki kekeliruan saya.

walaupun betenya sedikit, tapi saya heran pada diri saya sendiri, kenapa kok harus bete? Bukankah itu adalah bentuk perhatian beliau pada saya? Bukankah memang seharusnya saya dikoreksi? Kenapa saya tidak berfikiran positif saat itu?

Inilah mungkin peran syetan yang selalu membisikan rasa was-was kepada hati manusia. Sesaat setelah dikoreksi saat itu, timbul rasa kurang percaya diri, khawatir hilang kepercayaan, dll. yang membuat hati ini was-was.

Sekian jam lamanya hati ini masih sendu, perpaduan antara bete, rasa was-was dengan usaha membangun kembali sifat optimis.

Sekarang insya Allah saya masih berusaha untuk optimis, berfikiran positif.  Saya yakinkan diri ini dengan nashihat dari isteri saya, menurutnya, koreksi anggap sebagai nashihat, sebagai bentuk kasih sayang Allah pada saya, saya dikoreksi artinya saya mendapat perhatian dari orang yang sangat saya segani, koreksi adalah salah satu cara untuk melejitkan potensi diri. dst..

Mungkin salah satu penyebab awalnya adalah saya belum/tidak siap untuk dikoreksi. Padahal secara teori seharusnya saya siap untuk dikoreksi. Dan sekarang dengan mohon pertolongan Allah, saya nyatakan insya Allah saya siap, syaratnya yang mengoreksi harus tanpa rasa dengki he.. he…  (maaf bersyarat).

Leave a Reply